Salahkah Menjadi Bapak Rumah Tangga???

Salahkah Menjadi Bapak Rumah Tangga ???

"Apakah laki-laki yang tinggal dirumah dan merawat anaknya adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab dengan keluarganya?"

Melihat tingginya jumlah pengangguran dan sedikitnya jumlah lapangan kerja di Indonesia menyebabkan banyaknya pemuda-pemudi dengan usia produktif melakukan pekerjaan kasar dan seadanya. Ada banyak sekali perdebatan yang dilontarkan masyarakat tentang laki-laki mudah memperoleh pekerjaan dibanding perempuan dan begitupun sebalinya ada yang mengatakan perempuan lebih mudah mendapat pekerjaan seperti sales promotion dan pekerja pabrik. padahal sebenarnya sama saja. Kalaupun ada statement yang mengatakan bahwa perempuan lebih mudah mendapat pekerjaan, maka itu merupakan hasil kerja keras yang mereka lakukan.

Lalu bagaimana dengan fenomena mengenai Bapak Rumah Tangga? kenapa hal itu dipandang menyedihkan di negeri ini? Apa yang salah?. Bukankan ini hanya soal bertukar peran? Selama suami dan istri masih bisa menjalankan keluarga dengan baik dan benar maka sebenarnya hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Bukankan masalah seperti itu sudah dipikirkan oleh suami istri dari suatu keluarga? Lalu apa alasannya?

Laki-laki yang tinggal dirumah dan merawat anak-anaknya biasanya dianggap tidak bertanggung jawab, karena di beberapa negara di dunia ini seorang kepala keluarga biasanya dipimpin oleh seorang laki-laki (suami). Laki-laki diwajibkan untuk menafkahi keluarganya kelak jika sudah menikah. Sedangkan istri tinggal dirumah untuk merrawat anak dan keperluan keluarga. 

Jika seorang perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, tidak dianggap sebagai seorang pengangguran dan bahkan sampai ada form yang menulikan pekerjaan perempuan adalah ibu rumah tangga, lalu kenapa menjadi bapak rumah tangga tidak disediakan juga formnya? menurut penulis bapak rumah tangga bukanlah pengangguran, karena mereka melakukan pekerrjaan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh ibu rumah tangga. Yang disebur lelaki pengangguran adalah lelaki yang tidak memiliki kegiatan sehari-hari. Sedangkan bapak rumah tangga melakukan pekerjaan rumah tangga. Orang-orang biasanya menganggap remeh lelaki yang menjadi bapak rumah tangga. 

Bukankah ini yang dinamakan keseteraan gender. Banyak perempuan yang gemar menyuarakan kesetaraan gender. Jadi fine-fine aja sih menjadi bapak rumah tangga selama si istri merasa baik-baik saja. Dan suami juga mau melakukan pekerjaan rumah, kita tidak perlu menjudge seseorang dengan semaunya. Suatu keluarga pasti memiliki alasan sendiri kenapa mereka memiliki bapak rumah tangga bukan ibu rumah tangga. Hal itu pasti sudah mereka pikirkan masak-masak jika mereka memilih menjadi keluarga seperti itu.

Laki-laki yang memilih resign dari pekerjaannya untuk menjadi bapak rumah tangga biasanya sudah mempersiapkan mental dan merasa pekerjaan sang istri memang benar-benar tidak bisa ditinggalkan oleh sang istri. Sehingga menyebabkan suami mengalah untuk mengurus rumah tangga agar keluarga tidak terbengkalai dan anak tetap merasa kalau mereka tidak dilupakan. Tapi sebagai seorang istri, perempuan haru menyadari jika karir dan pekerjaan perempuan bukanlah hal mutlak di keluarga, mengingat tugas seorang  perempuan memanglah mengurus pekerjaan rumah. Jangan karena istri  memiliki pekerjaan dan suami yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka istri bisa seenaknya bebas bertingkah laku, itu merupakan kesalah yang akan menjatuhkan harga diri laki-laki hingga dapat memicu perselisihan dalam keluarga.

Kunci dari keberhasilan suatu keluarga apakah itu memiliki ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga adalah rasa saling menghargai satu sama lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiggal di Desa atau di Kota

Tunggu Aku

Derita dan alasan dibalik kepergiannya sebagai TKI di Negeri orang